Blog

Madu bertahan ribuan tahun!

March 18, 2020
/
ARTIKEL sarangmadumurni

Madu bertahan ribuan tahun lho
Pada zaman kuno, madu telah disebutkan dalam tulisan-tulisan Sumeria, Babilonia, India dan Mesir. Orang Mesir dan Yunani Kuno menggunakan madu sebagai pemanis dan juga digunakan dalam upacara keagamaan mereka.

 

Selama ribuan tahun, madu telah menemani semua budaya dan telah dikaitkan dengan kekayaan, kecantikan, kebahagiaan, dan umur panjang. Sifat terapetiknya telah tersohor untuk memperkuat, memelihara dan merawat tubuh.

Dalam Gua Aranha dekat Valencia, Spanyol, lukisan mural tua yang berusia 9.000 tahun menggambarkan pria yang sedangmengumpulkan madu dari tebing sementara diserang oleh lebah. Mural serupa juga ditemukan di Afrika Selatan dan India.

Saat penggalian pyramid yang telah berumur lebih dari 3.000 tahun, ditemukan madu di samping mummi. Kondisi madu tersebut masih baik dan tidak rusak. Hal ini menunjukkan bahwa madu tidak pernah basi dan bisa disimpan sampai beribu-ribu tahun. Hal ini karena kandungan air dalam madu sangatlah rendah sehingga bakteri pembusuk tidak sempat hidup di dalamnya. Di samping itu, keasaman (pH) madu berkisar antara 3,2-4,5. Tingkat keasaman ini dapat mencegah tumbuhnya bakteri.
Ilmuwan di Inggris Raya menemukan sisa madu lebah di tembikar yang berasal dari masa bercocok tanam awal di Zaman Batu di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara, termasuk di alat masak dari Turki yang berasal dari 8.500 tahun yang lalu.

“Jejak madu lebah terdeteksi di beberapa situs Neolitikum di Eropa, menunjukkan luasnya asosiasi antara manusia dan madu di zaman prasejarah,” kata ahli geokimia organik University of Bristol Melanie Roffet-Salque, dikutip dari Reuters, Kamis, 12 November 2015.

Sebelum temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature tersebut, bukti awal manusia telah menggunakan madu ada pada mural Mesir Kuno yang berasal dari masa Kerajaan Baru dan menggambarkan lebah dan madu diantara adegan sehari-hari pada 4.400 tahun yang lalu.

Roffet-Salque memperkirakan madu ditemukan pada tembikar karena orang pada masa itu sudah menggunakannya untuk melapisi tembikar agar kedap air dengan lilin lebah. “Jelas manusia Zaman Batu mengenal lingkungan mereka dengan sangat baik dan mengeksploitasi berbagai sumber natural seperti lilin lebah, getah pohon, dan tar,” kata dia.
Salah satu kegunaan madu yang paling mungkin untuk saat itu adalah sebagai pemanis, dia menambahkan.

Madu tidak dapat dideteksi secara langsung karena komposisi utamanya, gula, tidak dapat bertahan hingga ribuan tahun di situs arkeologi.

Sementara itu, lilin lebah digunakan untuk berbagai teknologi, ritual, kosmetik dan keperluan pengobatan.

“Misalnya melapisi bejana keramik atau melembutkan getah pohon birch untuk membuat lem.” Bukti lilin lebah di tembikar menunjukan manusia sudah lama mengeksploitasi hasil lebah: madu dan lilin.

Para peneliti memeriksa padatan yang tertinggal di lebih dari 6.600 tembikar dari 150 situs tua.

Mereka tidak menemukan jejak produk lebah pada tembikar yang berasal dari situs di utara, misalnya Skotlandia dan Skandinavia.

Menurut ahli biogeokimia Univeristy of Bristol Richards Evershed, saat itu lebah madu tidak hidup di daerah tersebut diperkirakan karena kondisi alam yang lebih keras dan tinggi.
Pada masa sekarang, madu diproduksi dan dikonsumsi lebih banyak lagi dibandingkan sebelumnya dan penelitian terhadap sifat manfaatnya sedang dilakukan di seluruh dunia. Islam telah menempatkan madu di tempat khusus dan mendorong penggunaannya untuk gaya hidup sehat.

Sumber:
Tempo
Brilio
Geographic channel